Kamis, 14 Februari 2013

FIRE OF LOVE

Api yang terus membakar

"kalau kasih tinggal dalam satu jiwa
pasti kasih itu akan menjiwai seluruh kemampuannya; 
tak pernah istirahat;
kasih itu adalah
api yang senantiasa menggerakan;
orang yang sudah dijiwai oleh api ini
akan terus menerus didorong, 
terus menerus digiatkan."

(Jalan Vinsensian, p. 90)


Kamis, 07 Februari 2013

pantun mendung



Di sini mendung di sana mendung


rupanya hujan siap mengguyur

di sini rasa membuat linglung

rupanya rindu tak mau diusir

Pohon durian pohon rambutan 
diterpa angin menari-nari
mohon bersua terhalang jalan
dinanti kakak kapan kembali

Selasa, 05 Februari 2013

pantun pesisir

angin pesisir meniupkan awan yang membawa hujan
tapi kali ini badai dibawanya juga
aku terbiasa diam untuk memendam semua yang kurasakan
tapi kali ini apakah aku harus bungkam juga

mungkin sedang lagi musim penghujan
hawa dinginnya menusuk sumsum
mungkin karena belum terbiasa berjauhan
rasa rindunya memendamku dalam


Selasa, 15 Mei 2012

just you and me here 
trying to let night passed in hurry 
I can make a lie that tomorrow will come soon 
so look me like that 
i will give nothing 
please take a sleep. so the sun is coming soon. 
i love you, son



PASKAH

paskah itu kemenangan 
namun kemenangan yang masih menjadi harapan 
sementara kenyataan yang kita alami lebih merupakan 
perjalanan antara golgota dan kebangkitan.

Jumat, 25 Maret 2011

NONSENSE


Di bawah terik mentari yang menyengat

Ia menyeret borok di selangkangannya

Keringat menambah perih pada borok yang semakin menganga

Ia mengaso sejenak, menengadah menantang bagaskara

Dan mengumpat 'cancuk!'

Ini hukuman bukan pengorbanan

Luka saja sudah terlalu menyiksa

Apalagi harus dibawa berlari

Siang bolong mengejar

Sebab bila terlambat senja akan menikamnya

Malam akan membiarkan dia mati dipagut pekatnya

Ia terhukum bukan nabi besar

Ia tak punya pelita

Yang mampu menembus gulita

Hukuman ini harus benar-benar selesai

Sebelum matahari pergi

ia butuh mata para saksi

Ia harus sampai di titik akhir

Ia tak mau menjadi mangsa kegelapan

Ia tak ingin mati sia-sia

Kalaupun ia harus mati ia ingin mati dalam terang

Orang-orang akan melihatnya

Mengenalinya sebagai diri mereka sendiri

Menyadari ini membelalakan matanya

Ia pun terus berlari, semakin cepat

Terselingi sumringah bibir pucatnya

Dan akhirnya terbahak ngakak

Ha...ha...ha...ha…….

Kita semua adalah terhukum

Selasa, 22 Maret 2011

Waturia - (Kuta)


Kita harus mengulang cerita kita ketika bau laut kembali tercium. Karena dengan mengulang cerita ini kita menjadi semakin dekat. Sedekat laut dengan bibir pantai. Sayangnya kau tak bisa hadir sehingga terpaksa aku harus bercakap sendiri kepada laut dan gelombang. Kadang aku terganggu gurauan anak-anak yang mengajak berenang. Aku mulai tergoda tapi ceritaku belum selesai karena itu aku tetap bertahan di bibir pantai.
Ketika kata-kata aku ucapkan, pecahan gelombang menelannya cepat-cepat dan membawanya ke laut yang lebih luas. Begitu aku terdiam, kudengarkan bisikan gelombang pada pecahannya. Aku tak pahami kata-kata seperti apa yang sedang disampaikannya tapi aku merasa ia sedang menyambung ceritaku. Sehingga ceritaku telah menjadi cerita kami.
Cerita kita telah menjadi milik lautan juga. Walaupun kau tak hadir di sini, aku tak sungguh-sungguh merasa sendirian. Ketika ceritaku telah selesai kusampaikan, maka laut pun menyimpannya dalam-dalam di dasarnya. Namun aku yakin cerita itu suatu hari nanti akan di ceritakan kepada bibir pantai yang lain. Di sana kau mungkin sedang berdiri menghitung gelombang. Laut telah mempersatukan kita, bukan?