Tampilkan postingan dengan label zerovigo02. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zerovigo02. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Maret 2011

Waturia - (Kuta)


Kita harus mengulang cerita kita ketika bau laut kembali tercium. Karena dengan mengulang cerita ini kita menjadi semakin dekat. Sedekat laut dengan bibir pantai. Sayangnya kau tak bisa hadir sehingga terpaksa aku harus bercakap sendiri kepada laut dan gelombang. Kadang aku terganggu gurauan anak-anak yang mengajak berenang. Aku mulai tergoda tapi ceritaku belum selesai karena itu aku tetap bertahan di bibir pantai.
Ketika kata-kata aku ucapkan, pecahan gelombang menelannya cepat-cepat dan membawanya ke laut yang lebih luas. Begitu aku terdiam, kudengarkan bisikan gelombang pada pecahannya. Aku tak pahami kata-kata seperti apa yang sedang disampaikannya tapi aku merasa ia sedang menyambung ceritaku. Sehingga ceritaku telah menjadi cerita kami.
Cerita kita telah menjadi milik lautan juga. Walaupun kau tak hadir di sini, aku tak sungguh-sungguh merasa sendirian. Ketika ceritaku telah selesai kusampaikan, maka laut pun menyimpannya dalam-dalam di dasarnya. Namun aku yakin cerita itu suatu hari nanti akan di ceritakan kepada bibir pantai yang lain. Di sana kau mungkin sedang berdiri menghitung gelombang. Laut telah mempersatukan kita, bukan?

Sabtu, 19 Maret 2011

zerovigo 03


Pernah kutulis namamu dalam lembaran-lembaran sejarah hidupku

Aku menulisnya dengan kata-kata yang aku ingin suatu waktu engkaupun akan mengetahuinya. Kalimat-kalimat yang aku harap kau kelak akan membacanya. Aku tulis dengan seluruh keangkuhan diriku. Aku tulis dengan kesadaran bahwa aku telah menamai dirimu. Padahal aku telah keliru. Karena kata-kataku berbeda dengan ucapan yang di bibirmu, yang mungkin telah engkau ucapkan tapi sampai sekarang tak pernah bisa aku tangkap. Aku tahu aku telah salah mengartikan setiap senyummu, setiap tatapanmu, atau setiap sentuhanmu. Tapi untuk waktu tertentu aku bahagia karena aku boleh mengenal dirimu dari sisi dirimu yang dapat aku tangkap. Itu sudah cukup buatku.

Rabu, 16 Maret 2011

agapethos

Kita tak pernah bicara secara terus terang. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang menyesakkan dadamu bila kita bertemu. Kadang-kadang aku dapati kau sedang tertegun memandangku. Di sela-sela canda tawa kita, aku merasakan ada yang masih kau sembunyikan.
Barangkali waktu memang belum pas untuk membicarakan dari hati-ke hati apa yang menyesakkan dada kita. Barangkali kita memang masih mencari-cari kata yang pas untuk bisa mengungkapkan timbunan isi hati. Atau masing-masing kita masih mengumpulkan keberanian untuk mengambil inisiatif memulai. Kita masih sering saling mengharapkan siapa yang akan membawa canda tawa kita pada suatu perkara yang serius. Masing-masing kita merasa ini mesti. Semakin mual rasanya memendam terlalu lama gejolak hati ini. Nyerinya malah ,mulai mengganggu kepala. Membuat senut-senut. Ah… apa-apan ini!
Ayolah bicarakanlah saja. Barangkali akan lebih baik bila semuanya sudah dilepas. Mengapa malu? Ataukah ada yang menakut-nakuti? Mungkin itu Cuma perasaanmu saja.